Ekspor kopi Indonesia pada semester I 2025 mencapai 206,7 ribu ton dengan nilai hampir US$1,13 miliar, dan diproyeksikan tumbuh 10% hingga akhir tahun. Amerika Serikat, Belgia, dan Mesir menjadi pasar utama. Berikut adalah sorotan terbaru dari pasar ekspor kopi Indonesia: Kinerja Ekspor Semester I 2025 Volume ekspor : 206,7 juta kg kopi diekspor dari Januari hingga Juni 2025. Nilai ekspor : Hampir US$1,13 miliar, menunjukkan permintaan global yang tetap kuat. Jenis kopi : Robusta dari Sumatra dan arabika dari Sulawesi mendominasi ekspor. Negara Tujuan Utama Negara Volume Ekspor (Januari–Juni 2025) Amerika Serikat 30,8 juta kg Belgia 30,3 juta kg Mesir 16,4 juta kg Target Pertumbuhan dan Ekspansi Target akhir tahun : Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 10% hingga Desember 2025. Pasar Mesir : Pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, Indonesia menargetkan transaksi ekspor 8.447 ton kopi ke Mesir senilai USD 39,7 juta (sekitar Rp600 miliar). Tren dan Potensi Diversifikasi pasar : Selain AS dan Eropa, pasar Timur Tengah dan Asia Tenggara menunjukkan peningkatan permintaan. Pameran dagang : TEI 2025 menjadi ajang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir kopi utama di pasar Mesir dan global. Sumber : 1. kampuskopi.com 2. GoodStats Data 3. Kementrian Pedagangan Republik Indonesia
Hangatnya Kopi Aneka Rasa Jadi Buruan Pengunjung Dieng Culture Festival
Menikmati kopi dataran tinggi Dieng menjadi pilihan wisatawan Dieng Culture Festival (DCF) untuk menemani dinginnya malam Dieng. Namun tidak hanya menghangatkan badan, kopi dataran tinggi Dieng memiliki banyak rasa. Danu pegiat kopi Banjarnegara mengatakan, dalam event DCF tahun 2025 ini menyediakan beragam kopi dari dataran tinggi Dieng. Seperti dari Ratamba, Kasmaran, Babadan dan daerah lain di dataran tinggi Dieng. “Ini kopi arabika dari dataran tinggi Dieng. Ada dari Ratamba, Babadan, Kasmaran, Pegundungan dan lainnya,” ujarnya saat ditemui di lapangan Pandawa area Candi Arjuna, Sabtu (23/8/2025). Ia menyebut, karakteristik kopi arabika dari dataran tinggi Dieng memiliki banyak rasa. Seperti orange, caramel, coklat dan rasa buah lain. Selain itu, juga memiliki rasa fruity yang kuat. “Untuk kopi Dieng ini memiliki karakteristik rasa fruity yang kuat. Selain juga banyak rasa yang berbeda-beda. Ada orange, coklat, caramel dan buah lain,” terangnya. Salah satu wisatawan DCF Ariesta mengaku suka dengan rasa kopi dataran tinggi Dieng. Awalnya, ia hanya ingin untuk menghangatkan badan. Namun ternyata rasanya pun enak. “Rasanya ternyata enak. Awalnya beli biar badannya hangat tapi ternyata rasanya juga enak banget ini,” tuturnya. Diketahui, Dieng Culture Festival merupakan acara budaya tahunan yang menggabungkan tradisi, seni, dan panggung hiburan. Di tahun ini, acara tersebut digelar di kawasan kompleks Candi Arjuna pada 23-24 Agustus 2025.
Optimistis Kopi dan Kakao Jatim Tembus Pasar Global, Gubernur Khofifah Tutup Gelaran Java Coffee and Flavors Fest 2025
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan optimistis komoditas kopi dan kakao asal Jawa Timur makin luas menembus pasar global. Hal itu ia sampaikan saat menutup perhelatan Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) 2025 di kawasan Kota Lama Surabaya, Senin (25/8) malam. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini mencatat lebih dari 26 ribu pengunjung dengan transaksi bisnis mencapai Rp100 miliar. Mengusung tema “Crafting Futures Through Local Flavors”, JCFF menampilkan potensi kopi, kakao, dan rempah Jawa Timur sebagai komoditas unggulan sekaligus identitas budaya daerah. “Jatim adalah salah satu produsen penting kopi dan kakao nasional. Dua komoditas ini tidak hanya menopang ekonomi petani, tetapi juga memperkuat daya saing daerah di pasar global,” ujar Khofifah dalam sambutannya. Gubernur Khofifah menjelaskan, Jawa Timur masuk empat besar produsen kopi nasional dengan luas areal 122.623 hektare dan produksi mencapai 78.688 ton dan berkontribusi pada ekspor kopi se Jawa tercatat 87 persen. Produksi itu terbagi atas robusta yang berkembang di dataran menengah–rendah serta arabika yang tumbuh di dataran tinggi dan memiliki potensi premium untuk ekspor. Beberapa sentra utama kopi Jatim di antaranya Bondowoso dengan Java Ijen Raung Coffee, Jember yang menjadi pusat penelitian kopi dan kakao (Puslitkoka), serta Malang, Pasuruan, Lumajang, Situbondo, dan Banyuwangi. Selain kopi, kakao juga menjadi andalan perkebunan Jatim dengan areal 50.096 hektare dan produksi 23.599 ton. Sentra kakao tersebar di Blitar, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, dan Malang Selatan. Sejumlah daerah bahkan telah mengembangkan hilirisasi menjadi produk olahan cokelat bernilai tambah. Menurut Khofifah, JCFF merupakan _strategic flagship event_ yang mempertemukan petani, UMKM, akademisi, dunia usaha, dan wisata heritage dalam satu ekosistem. “JCFF adalah ruang kolaborasi. Kita ingin kopi, cokelat, dan rempah Jatim tidak hanya berhenti sebagai komoditas, tetapi lahir menjadi produk bernilai tambah melalui riset, inovasi, dan teknologi,” ujarnya. Pemprov Jatim, lanjut dia, berkomitmen mendukung petani dan pelaku UMKM dengan fasilitasi pembiayaan, pelatihan, serta akses pasar global. Kepada para petani dan pelaku UMKM, Gubernur Khofifah mengharapkan agar terus menjaga kualitas, inovasi, dan konsistensi. Khofifah juga berpesan kepada para akademisi, peneliti dan generasi muda agar terus melalukan riset, inovasi, dan teknologi. Menurutnya, riset inovasi dan teknologi adalah kunci agar kopi, rempah dan cokelat tidak hanya berhenti sebagai komoditas, tetapi melahirkan produk bernilai tambah tinggi. Khusus kepada para pemangku kebijakan dan mitra pembangunan, Khofifah mengajak untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi mulai dari hulu, hilir, hingga promosi wisata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Semoga ikhtiar bersama ini menjadi bagian dari langkah besar Jatim dan Indonesia untuk meneguhkan jati diri sekaligus mengukir prestasi di kancah global,” terangnya. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan, BI siap mendukung pengembangan kopi, kakao, dan rempah di Jawa Timur. “Jatim adalah produsen utama kopi Jawa, dengan kontribusi 48 persen terhadap total produksi. Kami ingin pertumbuhan ekonomi daerah berkelanjutan, bukan hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga mengangkat pendapatan UMKM,” pungkasnya.
Kopi Asal Sumsel Mendunia, Perdana Ekspor Kopi ke Austalia dan Malaysia
Kopi asal Sumatera Selatan makin dikenal oleh masyarakat. Tidak hanya daerah-daerah di Indonesia namun juga mulai menyentuh ke beberapa negara luar. Dalam waktu dekat ini untuk pertama kalinya Kopi asal Sumsel akan di ekspor ke Australia dan Malaysia. Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Elen Setiadi, S.H., M.S.E bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumsel, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan dalam waktu dekat akan launching ekspor perdana ini. “Ekspor perdana akan dilakukan melalui Pelabuhan Boom Baru Palembang yang dijadwalkan pada 20 Januari 2025 mendatang,” jelas Pj Gubernur di Kantor OJK Sumsel. Dikatakan, sebanyak 19,5 ton kopi Sumsel jenis Arabica grade 1 asal semendo Muara Enim dan jenis robusta grade 1 asal Pagaralam akan di ekspor ke negara Australia. Sedangkan 39,6 ton green bean Kopi Jenis Robusta grade 4 asal Pagaralam akan diekspor ke Malaysia. “Provinsi Sumsel merupakan produsen terbesar penghasil kopi secara nasional, melalui ekspor kopi ini nantinya akan membentuk satu ekosistem yang terintegrasi,” tambahnya. Elen Setiadi berharap dengan diekspornya kopi Sumsel kedepan, akan berdampak pada meningkatnya produksi kopi oleh petani lokal Sumsel “Ini sudah menjadi tugas kita memang, kita sudah lapor kemarin dengan Bapak Menteri Koordinator Bidang Pangan bahwa produktivitas kopinya relatif menurun, karena mungkin usia nya sudah harus di replanting lagi,” jelasnya. “Kita akan kejar disana, termasuk juga dukungan untuk petani kopi yakni pupuk NPK, Mudah-mudahan nanti produksinya akan semakin baik dan meningkat,” tambahnya. Elen menegaskan, geliat ekonomi dampak dari komoditi kopi ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, utamanya yang terkait dengan literasi pengolahan biji kopi yang baik dengan kualitas ekspor. “Nanti dari ekspor itu kita targetkan berkelanjutan,” tandasnya Sementara Chief Executive Officer dari PT Agri Ekspor Indonesia Novia Anggita mengatakan, saat ini permintaan kopi Sumsel dari negara luar cukup besar, karena cita rasanya sangat diminati. “Rencana dalam beberapa hari kedepan kita akan mengirimkan atau Ekspor kopi Robusta dan Arabika ke Malaysia dan Australia dengan sebanyak 59,4 ton, melalui pelabuhan Boom Baru, kita juga sedang merambah negara tujuan ekspor lainnya. Salah satunya Dubai,” terang Anggita.
Petani Temanggung nikmati lonjakan harga kopi
Panen kopi tahun ini menjadi keberuntungan bagi petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Selain harga yang tinggi, hasil panen juga meningkat sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya. Petani kopi robusta di Temanggung meraup untung berlipat setelah harga jual kopi tahun ini naik lebih dari 300 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Harga jual kopi robusta kering (oce) tahun ini berkisar Rp73.000 hingga Rp85.000 per kilogram. Harga ini melambung hingga 300 persen jika dibandingkan dengan harga jual kopi pada tahun 2021–2022 yang hanya berkisar di antara Rp22.500 hingga Rp27.500 per kilogram. Harga jual kopi sangat ditentukan oleh kualitas kopi itu sendiri. Jika kopi petik campur atau sering disebut dengan kopi kualitas asalan harga jual Rp73.000, namun jika petik sudah merah semua maka harga bisa di atas Rp80.000 per kilogram. Harga tersebut belum disortir, namun kalau sudah disortir–yang jelek dan pecah sudah dipisah–maka harga bisa lebih dari itu. Meningkatnya kualitas kopi memang tidak hanya tergantung dari proses pascapanen, namun juga sangat tergantung dari perawatan dan pemilihan benih kopi yang teliti sehingga selain kualitas, juga akan meningkatkan kuantitas saat panen raya. Selama ini petani kopi robusta di wilayah Temanggung sudah mulai memperhatikan tata tanam dengan budi daya dan pemilihan benih yang bagus sehingga berimbas pada kualitas dan kuantitas kopi. “Alhamdulillah dengan budi daya yang sudah kami lakukan dengan baik, perkiraan tahun ini ada peningkatan produksi sampai dengan 30 persen,” kata petani kopi warga Gemawang Musiran. Dengan budi daya yang baik maka dalam satu pohon kopi bisa menghasilkan sebanyak 10 kilogram kopi basah (kopi gelondong), bahkan bisa lebih manakala kondisi tanah, perawatan, dan pemupukan dilakukan secara berkelanjutan. Kalau 1 hektare bisa menghasilkan antara 2 sampai 3 ton biji kopi kering. Petani kopi warga Kledung, Tohar, mengatakan, agar petani selalu menjaga kualitas dan produktivitas tanaman karena tidak menutup kemungkinan harga kopi bakal meningkat lagi. Untuk menciptakan sebuah rasa kopi yang berkualitas memang ada standar operasional prosedurnya sehingga tidak sembarangan untuk meningkatkan hasil petani itu harus merawat tanaman guna menghasilkan kopi yang berkualitas. Semua upaya tersebut dilakukan petani kopi agar hasil panen mereka punya nilai tawar. Akan tetapi kalau kalau petani kopi petik sembarangan, mereka bakalan merugi karena rasa tidak enak. Memang ada tahapan untuk itu untuk menghasilkan kopi bermutu. Saat ini petani kopi di Temanggung sedang menikmati keuntungan dari hasil panen, mengingat harga jual tinggi kopi pada panen tahun ini dan kemarin meningkat dua kali lipat. Kopi jenis robusta yang sebelumnya Rp30.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp75.000 per kilogram, sementara untuk kopi arabika naik dari harga Rp65.000 hingga Rp70.000 menjadi Rp150.000 per kilogram. Kenaikan harga terjadi sejak musim panen tahun 2023 karena pasokan kopi dari Vietnam dan Brasil, yang biasa membanjiri pasaran, berkurang. Selain karena tanaman terserang hama penyakit, di Vietnam petani mulai beralih ke tanaman durian. Kebun kopi di Temanggung memiliki luas lahan sekitar 14.500 hektare, terdiri atas 12 ribu hektare kopi robusta dan 2.500 hektare adalah kopi arabika, dengan rata-rata hasil panen 1,1 ton per hektare. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Temanggung Joko Budi Nuryanto minta petani kopi di Temanggung untuk tetap mempertahankan kualitas kopi, apalagi selama ini kopi Temanggung dikenal sebagai kopi yang mempunyai kualitas terbaik. “Jadi, kualitas kopi harus dipertahankan, jangan sampai karena harga jual kopi saat ini mahal, petani tidak lagi peduli dengan kualitas kopinya,” katanya. Panen raya kopi robusta biasanya berlangsung sampai pada akhir bulan Juni atau Juli setiap tahunnya. Masa panen kopi cukup panjang karena petani harus menunggu merah untuk dipanen. Meskipun harga kopi cukup tinggi, petani diminta tetap menjaga kualitas dengan memetik kopi merah. Petani kopi harus tetap melakukan petik merah demi menjaga kualitas kopi Temanggung. Harga yang tinggi ini jangan membuat euforia terhadap masyarakat petani kopi. Kualitas kopi harus tetap dijaga. Petani kopi jangan sampai dengan harga yang tinggi ini justru menjatuhkan para petani kopi ke depan. Kopi robusta di Kabupaten Temanggung ditanam di dataran rendah seperti di Kecamatan Kaloran, Jumo, Candiroto, Pringsurat, dan Wonoboyo, sedangkan jenis arabika dikembangkan di dataran tinggi seperti Kecamatan Kledung. Kopi jenis robusta dan arabika yang dibudidayakan petani di Kabupaten Temanggung kini semakin diminati oleh masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Produsen kopi warga Ngemplak, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung Deden Sofiudin menyampaikan selain konsumen dalam negeri, melalui pemasaran digital, pihaknya sudah merambah ke luar negeri seperti Singapura, Australia, Korea Selatan, Jerman, dan Rusia. Bahkan saat ini para petani meraup keuntungan besar karena harga jual kopi meningkat tajam dalam 2 tahun terakhir. Usaha yang sudah digeluti petani Temanggung sejak tahun 2016 kini membuahkan hasil karena produk kopi arabika dan robusta banyak diminati konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Setiap bulan rata-rata dapat menjual sampai 3 kuintal biji sangrai atau roastbean. “Kopi Temanggung sudah punya pasar yang bagus di pasar lokal, juga sudah punya pelanggan luar negeri. Serapannya pun bagus karena memang diproduksi dengan kualitas yang bagus dan dipasarkan lewat online,” katanya.
Sertifikasi Organik dan Fair Trade Kerek Nilai Jual Kopi
SUDAH 15 tahun, Rahmah mengantongi sertifikat organik dan fair trade untuk produk kopinya. Berkat itu, Rahmah bersama Koperasi Ketiara yang berdomisili di Aceh Tengah telah mengekspor kopi arabika gayo ke berbagai negara. Teranyar, tahun ini Rahmah bersama Ketiara mengekspor enam kontainer biji kopi dengan volume satu kontainernya sekitar 19,2 ton. Koperasi Ketiara memiliki sekitar 1.700 anggota petani kopi yang tersebar di 18 desa di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Semua anggota sudah tesertifikasi organik (EU, NOP/sertifikasi organik Uni Eropa), fair trade, dan RFA (Rainforest Alliance). Sertifikasi terakhir merujuk pada produk atau bahan tertentu yang diproduksi dengan bertanggung jawab. Sertifikasi tersebut bertujuan melindungi hutan, meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat hutan, serta membantu mereka beradaptasi dengan perubahan iklim. “Kami dibantu staf untuk mengelola sekian banyak petani, di lapangan ada delegasi. Setiap 60 petani memiliki satu delegasi. Memang sudah peraturan standar, lalu ada juga kolektor sehingga ketika ada masalah atau kendala di lapangan, misalnya petani yang ingin instan dengan langsung nyemprot biji kopi, bisa ketahuan oleh si delegasi itu,” kata Rahmah saat berbincang dalam sesi diskusi Coffee Quality, Variety, and Post-Harvest Development: Maintaining Economic Demand without Leaving the Soul of Coffee, yang menjadi rangkaian dari Jakarta International Coffee Conference (JICC), di Gedung AA Maramis, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Oktober lalu. Untuk bergabung menjadi anggota Koperasi Ketiara, tentu ada syaratnya, seperti memiliki lahan sendiri dan mendaftar dengan KTP. Setelah itu, Ketiara akan mendaftarkan perkebunan kopi milik petani tersebut untuk bisa memperoleh sertifikat organik. Karena itu, petani yang berada dalam naungan Ketiara harus patuh pada standar dan peraturan yang telah ditetapkan. Beberapa di antara peraturan tersebut ialah dilarang menyemprot tanaman kopinya dengan bahan kimia, proses tanam dan panen harus mengikuti aturan, dan ada standar proses pascapanen harus dilakukan dengan model giling basah. “Secara kualitas pascapanen, salah satu persyaratannya soal waste water. Limbah hasil proses kopi tidak dibuang langsung ke air sehingga tidak mencemari bendungan. Prosesor harus bisa meyakinkan atau menjamin tidak ada pencemaran lingkungan dari hasil pengolahan kopi. Dapat kualitas tanpa mengorbankan lingkungan,” kata tim kopi dari organisasi nonpemerintah Rainforest Alliance yang juga mengeluarkan sertifikasi, Intan Fardinatri. Mendorong perubahan rantai pasok Manfaat yang didapat petani dengan mengikuti standar sertifikasi yang diakui pasar internasional ialah lebih terarah dalam proses tanam hingga pascapanen. Para petani juga mendapat pembinaan dan pelatihan untuk memperlakukan kopi sesuai dengan standar yang ditetapkan. “Dengan memiliki sertifikasi organik, pastinya turut membantu daya jual. Semua pembeli membutuhkan kopi kami yang bersertifikat organik dan fair trade. Jadi, kami 100% ekspor,” ucap Rahmah. Masa panen di kawasan Aceh Tengah dan Bener Meriah berlangsung pada September–Mei. Negara tujuan ekspor kopi arabika bersertifikat organik dan fair trade produksi Ketiara di antaranya Amerika dan Inggris. Untuk satu kontainer, imbuh Rahmah, harga yang diterima sebesar Rp120 juta. Total harga jual akan dibagi dengan persentase ke berbagai departemen seperti petani hingga dana lingkungan. Sementara itu, Intan menambahkan, proses sertifikasi dunia kopi sudah semakin berkembang. Pada kurun dua dekade sebelumnya, sertifikasi petani kopi salah satunya diukur dengan audit rantai pasok seperti invetarisasi stok kopi di gudang, pendataan nama petani, dan dari wilayah mana kopi tersebut didapat. Kini, standar yang dikualifikasi mengharuskan lebih banyak syarat. “Kalau sebelumnya air limbah pemrosesan kopi dibuang begitu saja ke sungai, sekarang tidak boleh. Harus ada pendekatan yang mendorong mereka lebih peduli pada lingkungan. Produsen dan eksportir tahu apa yang harus dilakukan. Nah, sertifikasi ini menjadi salah satu cara untuk mendorong perubahan dalam rantai pasok industri kopi,” ungkap Intan. “Sertifikasi di Rainforest Alliance menjadi alat untuk meyakinkan para pembeli bahwa produk tersebut organik dan telah melalui berbagai tahapan. Itu menjadi salah satu alat yang powerful untuk mengomunikasikan impak di lingkungan ke konsumen akhir. Seperti Bu Rahmah, yang 70% kopinya diekspor ke Amerika Serikat,” lanjut Intan.
Update Harga Kopi di OKU Selatan Stagnan Rp 58.000 Perkilogram
Harga jual kopi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, stagnan Rp 58.000/kilogram, harga tersebut untuk kopi kualitas terbaik. Dimaksud kualitas baik yang biji kopi hasil panen raya lalu yang masih disimpan petani. Sedangkan untuk biji Kopi hasil buah selang seharga Rp 53.000/kilogram. “Dalam beberapa hari ini harga kopi buah musim Rp 58.000/kilogram, buah Selang Rp 53.000/kg,” terang Carles kepada Sripoku.com, Minggu (3/11/2024). Menurutnya, harga Biji kopi kualitas baik (buah musim) tak ada peningkatan maupun penurunan yang siginifikan dalam beberapa pekan terakhir, mengingat musim panen raya maupun panen buah selang sudah berakhir. “Untuk panen sudah bisa dikatakan usai, hanya tinggal beberapa menjual buah selang, kecuali bagi petani yang masih menyimpan hasil panen,”bebernya. Senada yang disampaikan oleh Suryanto, salah seorang petani di wilayah Kecamatan Pulau Beringin, pasca musim panen petani mulai melakukan perawatan kebun kopi masing-masing. Dikatakannya juga bahwa, saat ini petani jor-joran mengeluarkan modal untuk perawatan demi mendapat hasilnya maksimal.
Agus Soma, Petani Kopi Rancasari Juara 1 Arabika Natural di KKSI 2024
PETANI kopi asal Rancasari, Bandung, Agus Soma, meraih juara 1 pada kategori arabika natural dalam KKSI (Kompetisi Kopi Spesialti Indonesia) 2024. Pengumuman pemenang dilakukan di Plaza Industri Kementerian Perindustrian, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (18/10). Agus berhasil mengungguli 14 finalis lain di kategori arabika natural. Sementara itu, pada kategori ini, juara kedua diraih oleh Guruh Mursansani dari Sukarami, Palembang, Sumatra Selatan, dan juara ketiga diraih oleh Asep Ruswandi dari Cimaung, Bandung, Jawa Barat. Agus Soma menanam kopinya di Gunung Patuha, Kawah Putih, Ciwidey, yang memiliki ketinggian sekitar 1850–1900 mdpl. Kawasan tersebut merupakan milik Perhutani. Agus sudah terjun ke industri kopi sejak 2017. “Varietas yang kami kirim ke KKSI 2024 ini dari yang green bean-nya itu mix, 90% itu catimor dan 10% kurang lebih itu sigararutang. Itu berasal dari 5 hektare kebun yang kami kelola di Gunung Patuha itu,” kata Agus Soma kepada Media Indonesia saat dijumpai seusai penyerahan piala, di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Jumat (18/10). Agus mengatakan, untuk bisa menghasilkan kopi yang unggul dalam ajang kompetisi tentu saja perlu tata kelola yang baik. Selain perawatan, juga perlu diperhatikan terkait pemupukan, pruning, pemangkasan dahan-dahan. Kemudian petani harus tahu pengolahannya, misal fermentasinya tidak boleh terlalu lama. “Kami biasanya bersama tim, tiap kopi yang kami olah itu ada uji lab dulu. Jadi itu bisa kami kalibrasi. Nah itu kita bisa melihat angka-angkanya. Misalkan angkanya angka 7, saya ingin angka 8 gimana caranya gitu kan. Misalkan di situ kan ada fragrance, aroma, acidity, sweetness ya kan. Nah disitu kita bisa kalibrasi. Tentunya itu harus paham ya, dari mana gitu kan kurangnya,” lanjut Agus.(M-3)
Ini Deretan Kopi Asli Lampung yang Enak dan Wajib Dicoba
Lampung, merupakan daerah yang sangat terkenal dengan hasil bumi, yaitu kopi. Wajar saja, perkebunan kopi di Lampung sangatlah luas. Provinsi Lampung sudah tak asing di kalangan penikmat kopi. Nah, untuk menemani segelas kopi, kalian bisa sembari membaca artikel seputar asal kopi Lampung. Sebab Lampung termasuk wilayah penghasil kopi terbesar di Indonesia. Biji kopi Lampung yang dihasilkan juga terkenal punya cita rasa yang khas dan nikmat lho. Dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Indonesia mencapai 794,8 ribu ton pada tahun 2022. Sementara, Lampung merupakan provinsi penghasil kopi terbanyak kedua di Indonesia, dengan produksi kopinya sejumlah 124,5 ribu ton atau 15,6 persen dari total produksi kopi nasional. Kopi bisa dibilang menjadi komoditas perkebunan unggulan Provinsi Lampung. Selain itu, sebagian besar biji kopi yang diproduksi, diekspor ke sejumlah negara-negara di dunia. Wilayah dengan penghasil Kopi yang tak sedikit, Lampung punya area perkebunan kopi yang luas. Seperti dikutip dari laman resmi lampungprov.go.id, kebun kopi Lampung memiliki perkiraan luas 156.458 haktare pada tahun 2020. Deretan Wilayah Sentra Perkebunan Kopi 1. Kabupaten Lampung Barat Lampung Barat menjadi daerah yang punya perkebunan kopi rakyat terluas di Provinsi Lampung, yakni 54.106 ha atau sekitar 34,5 persen dari total luas perkebunan yang ada di provinsi ini. Biji kopi yang dihasilkan wilayah Lampung Barat pun berjenis kopi robusta, dengan jumlah hasil bisa menyentuh angka 57.930 ton. 2. Kabupaten Tanggamus Posisi kedua wilayah perkebunan kopi Lampung adalah Tanggamus. Di kabupaten ini, terdapat 41.510 ha area kebun kopi. Produksi kopi Kabupaten Tanggamus pernah mencapai jumlah 34.129 ton. 3. Kabupaten Lampung Utara Kabupaten Lampung Utara menyumbang produksi kopi 9.961 ton di tahun 2020. Adapun luas perkebunan kopi di Lampung Utara sebesar 25.679 ha. 4. Kabupaten Way Kanan Way Kanan menjadi wilayah terbesar ke empat yang menghasilkan kopi Lampung dengan total produksi 8.705 hampir di tiap tahunnya. Di kabupaten ini, area kebun kopi mencapai luas 21.655 haktare. 5. Kabupaten Pesisir Barat Pesisir Barat juga termasuk wilayah sentra perkebunan kopi Lampung dengan kebun kopi yang ada seluas 6.704 haktare. Berikut ini Merek Populer Kopi Lampung Untuk merek-merek kopi Lampung sendiri sangat bervariasi. Bahkan beberapa UMKM juga telah memberikan merek sendiri. Tetapi Pemprov Lampung sendiri telah memilih top 10 brand kopi bubuk robusta asli Lampung pada tahun 2022 lalu. Masih berdasarkan laman lampungprov.go.id, kesepuluh merek kopi asli Lampung yang punya rasa dan kualitas yang terbaik, yakni Koptan, Mowning, Tugu Liwa, Naire, Kopi 49, De Lampoeng Coffee, Blikopi, DR. Koffie, Ratu Luwak, dan Lambarco. Adapun merek Kopi Bubuk Sinar Baru Cap Bola Dunia, merupakan brand kopi Lampung kemasan tertua yang masih bertahan sejak tahun 1917. Kopi ini pula yang menjadi kebanggaan masyarakat lokal. Selain itu, merek-merek lain seperti Kopi Robusta Semut, Kopi Lanang, Kopi Bubuk Cap Jempol Unggul, hingga EL’S Coffee juga menjadi kopi Lampung yang banyak digemari penikmatnya. Jadi itulah tadi informasi lengkap seputar kopi Lampung, semoga menjadi informasi bermanfaat menjadi pilihan kopi yang bakal dinikmati.
Viral Tren Diet Minum Kopi Campur Kayu Manis, Diklaim Efektif Bakar Lemak
Minum kopi campur kayu manis tengah viral di TikTok. Resep ini disebut-sebut efektif menurunkan berat badan dan membakar lemak. Tren kopi kayu manis ini juga cukup sederhana. Caranya hanya perlu menambahkan satu sendok teh bubuk kayu manis ke dalam kopi hitam untuk mendapatkan manfaat penurunan berat badan. Kayu manis dibuat dari kulit bagian dalam pohon cinnamomum dan terbagi menjadi dua jenis: cassia dan Ceylon. Kayu manis cassia, yang lebih umum dari keduanya, memiliki rasa pahit dan kadar cinnamaldehyde yang lebih tinggi, senyawa yang memberikan rasa dan aroma khas kayu manis. Dikutip dari NYPost, dalam tinjauan ilmiah terhadap studi penurunan berat badan berpusat pada kayu manis, ditemukan bahwa ketika partisipan menggunakan kayu manis sebagai suplemen, berat badan mereka turun rata-rata 1,48 pon atau sekitar 0,67 kilogram. Penelitian tersebut berfokus pada orang-orang di Timur Tengah serta India. Dalam mengeksplorasi penurunan berat badan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa kayu manis memungkinkan glukosa darah seseorang memasuki sel-sel tubuh lebih cepat dari biasanya. Manfaat itu dapat membuat insulin bekerja lebih efektif sehingga metabolisme dalam tubuh berjalan lebih cepat. Kayu manis juga disebut dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk memecah lemak dan meningkatkan rasa kenyang dengan memperlambat laju pergerakan makanan dari lambung ke usus halus. Kara Collier, seorang ahli gizi terdaftar sekaligus salah satu pendiri dan Wakil Presiden Kesehatan di Nutrisense, menyampaikan kepada NY Post bahwa kayu manis memang memiliki berbagai manfaat, di antaranya sifat anti-peradangan, antioksidan, dan antimikroba. Meski begitu, ia mengaku bahwa masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk benar-benar memahami sejauh mana manfaat rempah tersebut. Meskipun kayu manis merupakan bahan utama dalam banyak hidangan kayu manis juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Beberapa orang mengalami nyeri gastrointestinal dan/atau reaksi alergi setelah mengonsumsi kayu manis. Di antara bahan aktif dalam kayu manis adalah kumarin, senyawa kimia yang dapat menyebabkan kerusakan hati dalam dosis tinggi. Kayu manis cassia mengandung hingga 1% kumarin, sedangkan kadar dalam kayu manis Ceylon jauh lebih sedikit, sekitar 0,004%.
