Skip to content
SABANI.COM
  • Home
  • News
  • Knowledge
    • Specialty Coffee of Arabica
    • Specialty Coffee of Robusta
    • Profil Kopi Arabika Gayo
    • Profil Kopi Arabika Lintong
    • Profil Kopi Arabika Koerinci
    • Profil Kopi Arabika Solok Minang
    • Profil Kopi Arabika Java Preanger
    • Klasifikasi Green Beans Dan Grade Coffee
    • Mengenal Macam-Macam Proses Pengolahan Kopi
  • Blog
    • Culinary
    • Health
    • Knowledge
    • Lifestyle
    • Tips
  • Video
  • Contact

Jangan Terkecoh, Ini 5 Tanda Biji Kopi Sudah Tidak Segar

Knowledge

Biji kopi memiliki masa terbaiknya untuk diseduh dan dinikmati selagi segar. Ternyata kesegarannya dapat diperiksa dengan melihat ciri-ciri hingga aromanya. Banyak tips yang dibagikan oleh barista dan ahli kopi untuk menyimpan kopi agar lebih tahan lama dan tak mudah apek. Salah satunya dengan menyimpan kopi dalam kondisi masih berbentuk biji agar daya simpannya lebih panjang. Faktanya, biji kopi sekalipun memiliki batas kesegaran dan daya simpan yang terbatas. Walaupun daya tahannya lebih panjang daripada kopi bubuk tetapi ketika hendak digunakan sebaiknya biji kopi diperiksa kesegarannya. Biji kopi dapat dikenali kualitas kesegarannya melalui beberapa tanda. Mulai dari ciri fisiknya yang berubah hingga aroma kesegarannya yang hilang dan tak lagi segar. Berikut ini 5 ciri-ciri biji kopi yang tidak segar melansir berbagai sumber: 1. Tekstur biji kopi Kopi secara alami memiliki kelembaban yang akan terjaga selama masa segarnya. Pada biji kopi yang telah dipanggang dan berwarna hitam sekalipun, jika masih segar akan tampak lembab. Pada The Kitchen Know How disebutkan tekstur kopi yang tak segar biasanya mulai tidak kering. Selain itu jika dilihat secara kasat mata biji kopi juga seharusnya tampak kering dan tidak mengilap. Ketika biji kopi mengilap dan terasa berminyak ketika disentuh, hal tersebut salah satu ciri bahwa biji kopi tak lagi segar. Karena kandungan minyak alami di dalam kopi tidak semestinya terpisah jika kopi masih segar. 2. Kopi tidak bisa mengembang Jika cukup sulit untuk dikenal dengan kasat mata, cara memeriksa kesegaran kopi juga bisa dilakukan dengan menyeduhnya. Biji kopi yang telah dihaluskan harus melalui proses blooming atau penyeduhan pertama sebelum menjadi secangkir kopi. Proses blooming dimaksudnya untuk membuat biji kopi mengembang sehingga ekstrak dan rasanya keluar secara maksimal. Tetapi pada kopi yang tidak segar proses bloomingnya tidak terjadi secara sempurna. Biji kopi sudah tidak bisa mengembang dengan maksimal. Ciri utamanya dapat dikenali dengan aroma yang dikeluarkan oleh kopi saat blooming, semakin segar kopi pada semakin segar pula aromanya. 3. Kehilangan aroma khasnya Seperti yang disebutkan sebelumnya, kopi memiliki kandungan minyak essensialnya sendiri. Kandungan minyak ini yang membuat kopi memiliki aroma tertentu dan hanya bisa terbentuk secara alami selama masa penanaman. Ketika suatu biji kopi tak lagi segar, maka minyak esensialnya akan keluar dan hilang. Biji kopi yang tidak segar akan membuat minyak esensialnya menguap dan beroksidasi. Biasanya jika disimpan pada wadah kedap udara sekalipun aromanya tetap akan berubah. Ditandai dengan bau seperti tengik atau udara yang telah terkurung lama di dalam wadah. 4. Rasanya hambar Tidak ada cara lain yang dapat diandalkan untuk mencicipi kesegaran kopi selain dengan lidah. Para pecinta kopi pasti memiliki pengecap rasa yang sensitif dan ahli dalam membedakan kopi. Kopi yang kehilangan kelembabannya, jika diseduh akan menghasilkan secangkir minuman yang hambar. Padahal seharusnya kopi memiliki rasa yang komplet dan kompleks secara alami. Banyak faktor yang membuat rasa kopi menjadi hambar. Kandungan minyak esensial yang telah teroksidasi hingga biji kopi yang tak dapat mengembang pada proses blooming sehingga tidak terseduh sempurna. 5. Munculnya jamur Sebelum menggiling biji kopi, sebaiknya perhatikan seluruh warna biji kopi dengan seksama. Biji kopi yang segar memiliki warna hitam pekat yang mulus tanpa ada setitik atau beberapa warna yang berbeda. Pada beberapa kasus ditemukan biji kopi dengan beberapa titik perubahan warna. Seperti biru, kehijauan, atau putih. Perubahan warna tersebut menandakan tumbuhnya jamur pada biji kopi. Jamur yang muncul pada biji kopi dapat menjadi tanda bahwa kelembaban kopi sudah terlalu tinggi. Kopi dengan ciri seperti ini tak lagi layak dikonsumsi dan sebaiknya langsung dibuang saja.

September 23, 2024 / 0 Comments
read more

Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Kopi Arab dengan Kopi Turki

Knowledge

Kopi Arab dengan kopi Turki sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda. Begini perbedaan asal-usul dan racikannya. Kopi menjadi salah satu minuman kafein terpopuler di dunia, bahkan di banyak negara ada racikan kopi khasnya tersendiri. Seperti kopi Arab ini. Disaat lebih banyak orang menganggap kopi Turki dan Kopi Arab punya racikan sama, sebenarnya keduanya berbeda. Kopi Arab memiliki sejarah yang panjang sejak abad ke-15. Bahkan tahun 2022, Kementerian Kebudayaan negara tersebut menyebut jika itu adalah tahun Kopi Saudi Arabia. Ada banyak hal menarik tentang kopi Arab yang mungkin belum banyak diketahui. Untuk mengetahuinya, berikut penjelasan kopi Arab dan perbedaannya dengan kopi Turki yang dirangkum dari voltagecoffee.com. 1. Sebutan Kopi Saudi Sejak Arab Saudi mengeluarkan visa turis pada 2019, mereka menjadi lebih fokus untuk mempromosikan sejarah-sejarah menariknya. Negara ini pun menjadi fokus mempromosikan kopi sebagai warisan sejarah dengan banyak keragaman di dalam kopi Arab itu. Tahun kopi bagi Saudi Arabia membuat mereka mempromosikan kampanye barunya dengan festival kopi, workshop, dan kompetisi. Bahkan restoran dan kafe banyak melakukan pembaharuan terkait penyebutan nama kopi dari kopi Arab menjadi kopi Saudi. Terlepas dari hal itu, kopi Saudi telah menarik perhatian pelaku industri kopi. Khususnya di daerah provinsi Jazan di Arab Saudi yang terkenal dengan perkembangan kopinya. Menurut survei yang dilakukan pada tahun 2017 di wilayah tersebut, Kementerian Arab Saudi menemukan jika terdapat 724 petani kopi yang hidup dan bekerja di area tersebut. Pada wilayah ini juga telah tumbuh dan berkembang 152.000 pohon kopi. Hal tersebut membuat Arab Saudi bisa memproduksi 450.000 kilogram biji kopi. Hasil panennya dijual di pasar domestik dan telah membuahkan hasil bagus. Arab Saudi juga menemukan varietas biji kopi baru yang disebut sebagai kopi Khawlani dan telah tumbuh di Provinsi Jazan setidaknya selama 150 tahun. 2. Perbedaan Kopi Turki dan Kopi Arab Kopi Turki mungkin lebih familiar di telinga banyak orang. Meskipun kopi Arab dan Kopi Turki sekilas mirip, tetapi keduanya punya racikan berbeda. Cara menyeduh keduanya berbeda. Kopi Turki biasanya menggunakan biji kopi yang dipanggang dengan tingkat gelap. Saat digiling, kopi ini akan menghasilkan bubuk halus. Oleh karena itu, tidak perlu banyak waktu untuk menyeduh kopi ini karena kopi Turki bisa diseduh dalam beberapa menit saja. Hasilnya memiliki rasa yang kuat dan intens. Sementara kopi Arab menggunakan biji kopi yang dipanggang ringan hingga sedang. Ketika digiling, biji kopinya juga tidak sampai bubuk halus. Tekstur kopinya masih berbentuk butiran. Racikan kopi Arab akhirnya lebih disukai oleh penduduk lokal Timur tengah karena mereka bisa mencicipi kopi dengan sedikit rasa buah. 3. Sejarah Kopi Arab Ketika membicarakan sejarah kopi Arab, ada perubahan drastis yang terjadi. Dari masa ke masa, selalu ada perkembangan minat profil rasa. Sebagian wilayah mungkin lebih banyak orang menyukai kopi dengan rasa kuat. Tetapi di wilayah lain mungkin lebih banyak yang suka kopi dengan rasa lebih ringan. Di kondisi seperti inilah profil rasa kopi terbagi. Sampai saat ini kopi Arab masih terbagi berdasarkan selera masing-masing individu. Karena ketika berbicara terkait kopi, pastinya setiap orang punya seleranya sendiri. Namun biasanya kopi Arab menggunakan beberapa biji kopi dari daerah berbeda. Mulai dari Ethiopia single origin, atau bahkan menggunakan biji kopi campuran antara Arabika dan Robusta. Beberapa orang di wilayah Arab juga ada yang suka menambahkan rempah-rempah seperti saffron dan kayu manis ke dalam racikannya.  

March 17, 2023 / Comments Off on Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Kopi Arab dengan Kopi Turki
read more

Tahukah Anda: 9 Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika

Knowledge

Setelah disangrai, secara sekilas semua biji kopi memang terlihat hampir sama saja. Tetapi tahukan Anda bahwa ternyata ada banyak sekali jenis-jenis kopi. Dari sekian banyak jenis kopi, ada dua jenis yang umumnya menjadi konsumsi kita sehari-hari, yaitu kopi robusta dan arabika. Cukup banyak orang yang bertanya-tanya, apa bedanya kopi arabika dan robusta? Kopi arabika dan robusta enak yang mana? Meskipun kedua jenis kopi ini sama-sama merupakan kopi yang paling banyak dikonsumsi, ternyata kopi robusta dan arabika mempunyai beberapa perbedaan yang sangat signifikan. Berikut 9 perbedaan antara kopi robusta dan arabika 1. Rasa Rasa tentunya merupakan fitur yang paling penting bagi kita para penikmat kopi. Setelah melalui berbagai macam proses pengolahan sampai saat penyajian, yang kita nikmati ketika kopi sudah disajikan di atas meja adalah rasa dan aromanya bukan? Secara rasa, kopi robusta memiliki variasi rasa yang kuat dan juga tajam. Seringkali dikatakan kopi robusta memiliki rasa seperti gandum. Sebelum disangrai, biji kopi robusta memiliki aroma seperti kacang-kacangan. Ini menyebabkan kopi robusta umumnya dianggap memiliki kualitas di bawah kopi arabika. Tetapi perlu diketahui juga bahwa tidak semua kopi robusta memiliki kualitas rendah, ada juga kopi robusta yang berkualitas baik dan bernilai tinggi, namun memang cukup sulit untuk menemukannya. Sedangkan kopi arabika memiliki variasi rasa sangat beragam, tergantung dari jenisnya. Mulai dari rasa manis yang lembut sampai rasa yang kuat dan tajam. Acidity dari kopi arabika juga lebih tinggi, yang menandakan bahwa kopi arabika memang merupakan kopi dengan kualitas tinggi. Sebelum disangrai, kopi arabika memiliki aroma seperti blueberry. Setelah disangrai, kopi arabika memiliki aroma seperti buah-buahan dan manis. 2. Kadar Kafein Salah satu alasan mengapa kopi robusta tidak senikmat kopi arabika adalah karena kopi robusta memiliki kadar kafein yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kopi arabika. Ini mungkin terdengar sebagai hal positif, akan tetapi kafein membawa rasa pahit yang mengurangi kenikmatan kopi saat diminum. Bahkan kopi robusta memiliki kadar kafein dua kali lebih banyak daripada arabika, yaitu 2.2% sedangkan kadar kafein kopi arabika hanya 1.2%. 3. Kandungan Gula dan Lipid Kandungan lipid dan gula pada kopi arabika lebih banyak daripada kopi robusta. Tepatnya kopi arabika memiliki kandungan lipid lebih banyak 60% daripada robusta, dan kandungan gula kopi arabika juga hampir dua kali lebih banyak daripada robusta. Kadar gula pada kopi penting karena dekomposisi gula pada saat proses sangrai dapat meningkatkan level dari rasa acidity kopi. 4. Harga Ada pepatah: harga menentukan kualitas. Pepatah ini juga berlaku dalam dunia kopi. Dari sisi harga, kopi arabika lebih mahal daripada kopi robusta. Bahkan harga kopi arabika hampir dua kali lebih mahal dari harga kopi robusta. Kopi instan yang umumnya ditemukan di supermarket biasanya adalah kopi robusta. 5. Kondisi Lingkungan Produksi Kopi robusta lebih mudah untuk ditanam. Kopi robusta dapat ditanam pada ketinggian rendah sekitar 200-800 meter dari permukaan laut dan tidak mudah diserang hama. Kadar kafein yang tinggi pada kopi robusta bermanfaat sebagai pertahanan terhadap hama karena kadar kafein yang tinggi tersebut menjadi racun bagi hama. Kopi robusta juga menghasilkan lebih banyak biji kopi per hektar, dengan biaya produksi yang juga lebih kecil. Sebaliknya, kopi arabika ditanam di ketinggian 600-2000 meter dari permukaan laut dan memerlukan lebih banyak perhatian khusus serta harus ditanam di daerah yang dingin dengan iklim sub tropik (15° – 24°C). Kopi arabika juga memerlukan kelembaban, tanah yang subur, dan sinar matahari yang cukup. Oleh karena itu, biji kopi arabika sangat rentan diserang hama dan mudah rusak apabila tidak ditangani dengan baik. 6. Bentuk Biji Kopi Biji kopi arabika memiliki bentuk yang sedikit lebih besar dan oval, sedangkan kopi robusta lebih kecil dan bundar. Perbedaan ini terlihat jelas seperti pada gambar di atas. 7. Tinggi Pohon Kopi arabika biasanya tumbuh antara 2.5 – 4.5 meter, sedangkan kopi robusta tumbuh lebih tinggi yaitu hingga 4.5 – 6.5 meter. 8. Kandungan Chlorogenic Acid (CGA) Chlorogenic acid adalah zat antioksidan dan pencegah serangga. Kopi robusta mempunyai 7% – 10% CGA, sedangkan arabika mempunyai 5.5% – 8% CGA. 9. Budidaya Hampir 75% produksi kopi dunia adalah kopi arabika. Produksi kopi robusta hanya sekitar 25%. Kopi robusta dibudidayakan secara ekslusif di belahan bumi bagian timur, terutama di Afrika dan Indonesia. Kopi arabika juga dibudidayakan di Afrika dan Papua New Guinea, tetapi lebih dominan di Amerika Latin. Colombia hanya memproduksi kopi arabika, sedangkan negara-negara lain seperti Brazil dan India memproduksi keduanya baik arabika maupun robusta. Demikianlah 9 perbedaan antara robusta dan arabika. Perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua kopi arabika mempunyai kualitas yang sama. Seperti yang sudah disebutkan di atas, hampir 75% kopi yang diproduksi di seluruh dunia adalah arabika. Di antara 75% tersebut tentu saja ada hasil produksi arabika yang kurang berkualitas. Oleh karena itu, jangan berasumsi hanya karena kita membeli kopi arabika maka kita akan mendapatkan kopi yang berkualitas baik.

March 17, 2023 / Comments Off on Tahukah Anda: 9 Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika
read more

Mengenang Masa Ketika Dunia Mengenal Kopi Sebagai Java

Knowledge

Tak salah jika dikatakan jika kopi adalah salah satu minuman paling terkenal di Indonesia. Ada berbagai jenis kopi yang tersebar di hampir semua pulau yang ada di Tanah Air, semua dengan cita rasa yang beda-beda. Kopi Indonesia juga terkenal nikmat serta mendunia. Kepopulerannya dimulai sejak era kolonialisme Belanda. Bahkan, dulu pun menikmati secangkir kopi dikenal dengan istilah “a cup of Java” Tentu ada alasan tersendiri mengapa kopi sampai disebut java atau dalam bahasa Indonesia berarti Jawa. Sejarah kopi hingga dikenal sebagai ‘Java’ Kopi di masa lalu hanya tumbuh liar di dataran Ethiopia. Tapi setelah mengetahui betapa nikmatnya kopi, para pedagang Arab membawanya ke Yaman. Di sinilah kopi mulai merajai pasaran. Di Indonesia sendiri, kopi diperkenalkan oleh Belanda pada tahun 1600-an. Setelah perkebunan kopi menjamur, pada 1700-an, kopi Indonesia mulai diekspor oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda. Jawa adalah pulau pertama yang membudidayakan kopi, dan inilah dugaan pertama alasan kopi juga dikenal sebagai java. Namun, pada 1860-an dan 1870-an, epidemi karat daun kopi menghancurkan pasar kopi di Indonesia. Hal ini juga yang menyebabkan banyak perkebunan kopi ditinggalkan oleh Belanda. Bencana dan musibah justru menjadi berkah. Hal ini mungkin yang pas disandingkan dengan perkebunan kopi Indonesia. Ketika perkebunan bubar dan ditinggal orang Belanda, buruh justru mengambil petak kecil tanah. Mereka menanam kembali sebagian besar stok Arabika lama dengan kopi Robusta, juga berbagai hibrida yang lebih tahan penyakit. Kopi Jawa sendiri sebagaimana dilansir dari Cafe Imports, memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis kopi lainnya. Kopi Jawa lebih bersahaja, gurih, dan agak vegetal atau herba. Rasa ini bisa berasal dari iklim dan campuran varietas yang ditanam, serta karena gaya pemrosesan pasca-panen khusus yang disebut Wet-Hulling, atau dikenal secara lokal giling basah. Proses penggilingan ini yang memberikan banyak kualitas unik yang dimiliki kopi Jawa. Apakah Java berarti kopi? Istilah Java ini memang mengacu pada secangkir kopi. Pada abad ke-17, Belanda menjajah pulau Jawa, yang saat ini menjadi bagian dari Indonesia. Mereka menanam banyak espresso dan mulai mengirimkannya ke seluruh dunia. Belanda pun mempopulerkan istilah A Cup of Java agar produk mereka laku di pasaran. Dari sinilah kemudian istilah Java mendunia. Istilah Java coffee pun di kemudian hari menjadi identik dengan kopi Arabica yang berkualitas. Di masa kini, sebagaimana dilansir dari Coffe Chronicler Jawa juga menjadi bahasa gaul untuk kopi. Sebenarnya kopi Jawa hanya salah satu varian berkualitas yang dihasilkan dari tanah Indonesia. Namun karena begitu banyak kopi yang diproduksi di pulau Jawa di masa lalu, maka kopi yang diekspor ke negara lain lebih dikenal dengan sebutan java atau jawa.

October 3, 2022 / 0 Comments
read more

Perbedaan Rasa Kopi Arabika vs Kopi Robusta

Featured,  Knowledge

Saat mendengar Arabika dan Robusta, apa yang ada di benak Anda? Biasanya, kami akan mendapatkan jawaban seperti ini: “Arabika itu manis, Robusta itu pahit,” atau “Arabika itu harganya mahal, kalau Robusta lebih murah.” Kedua jawaban diatas memang benar adanya. Sebenarnya, apa yang membuat Arabika dan Robusta begitu berbeda? Kali ini kami akan mengulas lebih dalam soal perbedaan kedua jenis kopi ini. Kopi Arabika Jangan tertipu dengan namanya, Arabika adalah jenis kopi yang berasal dari dataran tinggi Ethiopia Barat. Kenapa namanya disebut Arabika? Menurut sebuah sumber, kopi ini dinamakan Arabika karena pada abad ke-7, biji kopi ini dibawa sebuah daerah dataran rendah di Arab. Umumnya jenis kopi ini tumbuh pada ketinggian sekitar 3.000-7.000 kaki di atas permukaan laut. Daerah subtropis adalah daerah yang ideal untuk kopi Arabika, karena umumnya daerah tersebut punya tanah gembur (atau tanah vulkanik), curah hujan merata, serta sinar matahari cukup, yang membuat Arabika dapat tumbuh dengan baik. Namun, Arabika adalah jenis kopi yang tidak mudah untuk dirawat. Tanaman kopinya cukup rentan terhadap hama dan penyakit. Arabika juga merupakan jenis kopi paling populer di dunia. Menurut statistik, tahun 2017 dan 2018, produksi kopi Arabika di seluruh dunia mencapai sekitar 94,88 juta (standar 60kg). Tahun 2019 mendatang, produksi kopi Arabika di dunia diperkirakan akan melampaui 101 juta (standar 60kg). Kopi Arabika rasanya seperti apa? Jika Anda pernah minum wine, maka Anda akan paham kenapa kopi ini disebut-sebut sebagai Merlot-nya kopi. Rasanya manis namun umumnya ringan saat diminum. Secangkir kopi Arabika bisa digambarkan aromatik dan kaya akan rasa. Ini sebabnya, jika Anda membeli kopi Arabika di kedai kopi, Anda dapat melihat tasting notes pada kemasannya, misalnya: floral, fruity, orange, buttery, chocolate, caramel, dan lainnya. Kopi Arabika Fun Facts: Arabika memiliki kadar kafein 2x lebih rendah daripada Robusta. Kadar gula pada kopi Arabika 2x lebih tinggi dibandingkan kopi Robusta Arabika juga memiliki acidity lebih tinggi dibandingkan Robusta Kopi Arabika harganya lebih mahal dibandingkan kopi Robusta, dikarenakan lebih sulit merawat tanaman kopi ini hingga waktu panen Biji kopi Arabika bentuknya oval dan ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan biji kopi Robusta Kopi Arabika seperti apa yang menjadi favorit Anda? Kopi Robusta Berbeda dengan Arabika, kopi Robusta berasal dari Afrika Barat dan tumbuh pada dataran yang lebih rendah dan suhu lebih tinggi. Produksi kopi Robusta menyumbang sekitar 30% dari total produksi kopi di dunia, dimana Vietnam adalah negara pengekspor terbesarnya. Dari statistik, tahun 2017 dan 2018, produksi kopi Robusta di seluruh dunia mencapai sekitar 64.89 juta (standar 60kg). Tanaman kopi Robusta jauh lebih mudah untuk ditanam dan dirawat, bahkan dapat memberikan hasil panen yang lebih banyak dibandingkan Arabika. Rahasia ketahanan tanaman kopi Robusta juga terletak pada kandungan kafein dan asam klorogeniknya yang tinggi, yang berfungsi sebagai pestisida alami untuk melindungi diri dari serangan hama dan penyakit. Hal ini juga menjadi alasan utama mengapa dari sisi harga, Robusta jauh lebih murah dibandingkan Arabika. Robusta tidak repot dan mudah sekali ditanam dibandingkan Arabika 🙂 Kopi Robusta rasanya seperti apa? Umumnya, Robusta sering digambarkan sebagai kopi yang pahit atau tajam dengan karakter rasa seperti kayu dan karet. Pahit atau bitter ini berasal dari kandungan kafein yang lebih tinggi pada Robusta jika dibandingkan dengan Arabika. Jika Anda hanya sekedar mencari kafein Robusta adalah pilihan terbaik! 🙂 Kopi Robusta Fun Facts: Robusta memiliki kadar kafein lebih tinggi dibandingkan Arabika Kadar gula pada kopi Arabika jauh lebih rendah dibandingkan kopi Arabika Robusta memiliki acidity lebih rendah dibandingkan Arabika Kopi Robusta harganya jauh lebih murah dibandingkan kopi Arabika, dikarenakan merawat tanaman kopi ini cukup mudah Biji kopi Robusta bentuknya bulat dan ukurannya lebih kecil dibandingkan biji kopi Arabika Walaupun seringkali dikaitkan dengan kopi bubuk instan, kopi Robusta juga dapat dinikmati seperti layaknya menyeduh kopi Arabika menggunakan metode seduh tertentu. Jangan salah, Robusta juga ada tingkatan atau grade-nya lho! Beberapa jenis Robusta berkualitas tinggi dijual dengan harga lebih tinggi karena menghasilkan rasa yang kental (deep flavour) dan krema yang bagus untuk membuat espresso. Kopi Robusta seperti apa yang pernah Anda coba? Ada satu hal yang menarik yang kami sadur dari Perfect Daily Grind. Walaupun kopi Robusta kurang populer dibandingkan Arabika, sudah mulai ada pergeseran pendapat dari pecinta kopi Robusta ini. Adalah Gabe Shohet, co-founder dari Black Sheep Coffee di London, Inggris. Beliau mendirikan kedai kopi ini bersama teman-temannya karena mereka punya visi sama: ingin secangkir kopi yang lebih strong, full-bodied, dan punya kadar kafein tinggi. Ketika sebagian besar orang mulai lebih banyak mencari kopi Arabika, Gabe Shohet dan kedai kopinya justru menyuguhkan Robusta. Karena kecintaannya yang amat dalam terhadap kopi Robusta, dengan tekad penuh ia melakukan beragam eksperimen untuk membuktikan bahwa Robusta juga patut dipertimbangkan keistimewaannya layaknya Arabika. Dalam perjalanannya tersebut, ia menemukan produsen specialty coffee Robusta yang pertama di dunia: The Sethuraman Estate yang berada di India. Produsen kopi tersebut melakukan seluruh proses layaknya kebun kopi Arabika: memetik buah ceri kopi dengan tangan, mencucinya, dan mengeringkannya. Gabe menggambarkan hasil seduhan kopi Robusta ini memiliki profil cita rasa yang melebihi Arabika. Minuman dengan tingkat kafein tinggi ini bahkan dapat menghasilkan tasting notes kenari dan coklat. Menarik sekali ya? Pada akhirnya, minum atau menyeduh kopi akan kembali ke selera pribadi. Jika sebelumnya Anda lebih menyukai kopi Arabika, tak ada salahnya pula mencoba kopi Robusta sebagai perbandingan dan menghilangkan rasa penasaran. Siapa tahu, Anda justru akan menyukainya! 😉

November 17, 2021 / Comments Off on Perbedaan Rasa Kopi Arabika vs Kopi Robusta
read more

Mengapa Ketinggian Menghasilkan Rasa Kopi Berbeda?

Featured,  Knowledge

Kopi dikenal sebagai salah satu minuman yang memiliki karakter unik. Umumnya, masyarakat mengenal kopi dengan cita rasa yang pahit dan bisa dipadukan dengan bahan lainnya seperti susu. Namun, bagi mereka yang mengenal kopi begitu mengerti banyaknya jenis dan cita rasa kopi. Cita rasa kopi yang dihasilkan dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti tanah, ketinggian atau altitude, tekanan udara, proses pascapanen. Tak jarang kami mendengar pertanyaan beberapa hal yang dapat mempengaruhi rasa kopi, salah satunya tentang ketinggian tanaman kopi. Ketinggian tanaman biji kopi hingga saat ini memiliki ketertarikan bagi penikmat kopi. Hal tersebut menjadi salah satu alasan seseorang memilih kualitas biji kopi. Tak heran jika pada setiap kemasan biji kopi yang dijual selalu dicantumkan ketinggian tanaman dan catatan rasa kopi tersebut. Ketinggian dan suhu Tahukah Anda bahwa ketinggian tanaman kopi dapat menentukan bentuk biji kopi yang dihasilkan? kopi yang ditanam di ketinggian lebih dari 1300 mdpl, secara fisik memiliki bentuk yang lebih padat dan garis tengah yang lebih merapat dan berbentuk zig-zag. Hal tersebut terjadi karena tingkat kelembaban dan kondisi udara yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan kopi yang cenderung lambat. Kopi yang ditanam pada ketinggian tersebut adalah biji kopi arabika. Tak heran jika kopi arabika memiliki waktu produksi yang lebih lama. Beda halnya dengan biji kopi robusta yang ditanam pada ketinggian kurang dari 800 mdpl. Tanaman kopi tersebut bisa dibilang memiliki ketahanan yang lebih kuat dari biji kopi arabika. Kopi robusta masih bisa tumbuh di level ketinggian berapa pun. Bahkan biji kopi robusta bisa saja ditanam di halaman rumah Anda. Berbeda dengan biji kopi arabika yang memiliki ketahanan lebih rentan terkena penyakit pada tanaman kopi tersebut. Melihat hal itu, kita dapat melihat bahwa ketinggian tanaman kopi memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kopi dan bentuk biji kopi. Mengapa demikian? Bagaimana dengan cita rasa kopinya? Seperti yang dilansir dalam buku ‘The Little Coffee Know it All’ yang ditulis oleh Shawn Steiman, ia menjelaskan bahwa pada sebuah penelitian terhadap tanaman sayur, seperti selada dan lobak yang ditanam pada tekanan udara yang rendah peneliti merasakan adanya perbedaan terhadap daun selada yang tumbuh di tekanan udara yang berbeda. Begitu juga dengan tanaman lobak yang tidak bereaksi, kecuali pada tekanan udara yang lebih rendah. Uniknya, rasa dan senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman sayur tersebut tidak berubah. Lalu, bagaimana dengan tanaman kopi? Di buku tersebut ia memaparkan bahwa adanya perubahan yang sama pada tanaman selada dengan tanaman kopi, karena keduanya merupakan benih. Sepertinya tekanan udara tidak dapat mempengaruhi rasa kopi. “Ketinggian dan letak garis lintang memang penting, tetapi yang perlu Anda ingat justru pengaruh keduanya terhadap suhu wilayah tanam, yang mempengaruhi karakter rasa minuman favorit Anda,” tulis Shawn Steiman. Jika berbicara tentang ketinggian tanaman, khususnya pada tanaman kopi, menurut Steiman sejauh ini tekanan udara menjadi salah satu faktor yang menjadi perbedaan pada ketinggian tanaman. Semakin tinggi ketinggian tanaman, maka akan semakin rendah suhunya. Dari berbagai penelusurannya, ternyata suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan berbagai tanaman. Salah satu jurnal menyatakan bahwa pertumbuhan, produktivitas, mutu, serta cita rasa kopi juga ditentukan oleh beberapa faktor, seperti sifat kimia tanah. Ketinggian lahan tanaman kopi berpengaruh terhadap curah hujan dan suhu udara. Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa semakin tinggi tanaman kopi, maka suhu udara akan semakin rendah dan curah hujan semakin tinggi. Dalam jurnal tersebut pun menerangkan bahwa keadaan iklim seperti itu membuat tanahnya semakin subur. Mengingat faktor iklim tersebut, rupanya dapat memengaruhi proses penguraian bahan organik dan komposisi kimia pada tanah, serta proses kematangan buah kopi. Ketika mengetahui komposisi kimia tanah, hal ini dapat menentukan dalam memilih lokasi penanaman buah kopi, serta dosis pupuk yang sesuai dengan kriteria dan kebutuhan tanaman. Sama tingginya, beda rasanya Kata Steiman, perbedaan suhu yang terjadi tidak hanya berdasarkan tingkat ketinggian di suatu wilayah, melainkan juga pada garis lintang. Sebagai contoh, Steiman menjelaskan bahwa suhu udara di Hawaii dengan ketinggian 765 mdpl lebih sejuk daripada suhu udara di Kolombia di wilayah yang memiliki ketinggian 765 mdpl. Ini menjelaskan bahwa secara geografis Hawaii memiliki jarak lebih jauh dari garis lintang khatulistiwa, jika dibandingkan dengan Kolombia. Meskipun ketinggiannya sama di wilayah berbeda, rasa yang dihasilkan akan berbeda karena adanya perubahan suhu tersebut. Perbedaan suhu udara antara wilayah satu dengan wilayah lainnya tidak semata karena ketinggian, melainkan dapat dihitung berdasarkan ketinggian dengan garis lintangnya. Semakin jauh garis lintang pada ketinggian tertentu, maka akan semakin rendah suhu udaranya. “Apakah semakin tinggi tanaman kopi hasilnya akan lebih baik?” Kopi yang ditanam pada ketinggian lebih dari 800 mdpl diakui memiliki karakter rasa yang berbeda, seperti tingkat keasaman, aroma dan cita rasa yang lebih bervariasi. Jika Anda sering menemukan kopi dengan cita rasa yang bervariasi, seperti buah-buahan tropis, berries, orange, coklat, kacang, dan varian rasa lainnya, kemungkinan besar kopi tersebut memang berasal dari tanaman > 800 mdpl. Sedangkan, untuk kopi yang ditanam di ketinggian yang lebih rendah memiliki tingkat keasaman yang lebih rendah dan karakter rasa yang lebih sedikit. Bagaimana dengan curah hujan? Berbicara soal faktor alam yang satu ini, pada tanaman kopi arabika dan robusta memiliki kebutuhan curah hujan yang berbeda. Sebelum membahas lebih lanjut, curah hujan adalah ketinggian air hujan yang terkumpul di tempat yang datar, tidak mengalami penguapan, tidak meresap, serta tidak mengalir. Curah hujan tersebut memiliki perhitungan dalam satuan milimeter (mm). Selain ketinggian tanaman kopi, curah hujan juga memiliki pengaruh terhadap kualitas tanaman kopi. Dari dua jenis kopi yang ada, yaitu kopi arabika dan robusta memiliki kebutuhan curah hujan yang berbeda. Kopi arabika umumnya membutuhkan curah hujan sekitar 1200-2200 mm per tahun. Alasannya, pada jenis kopi ini tidak menghasilkan buah yang banyak. Apabila curah hujannya lebih dari 2200 mm per tahun, akan rentan menurunkan kualitas buah kopi. Selain itu, jika curah hujan pada tanaman kopi arabika terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan tanah. Sebaliknya, untuk tanaman kopi robusta membutuhkan curah hujan yang tinggi, yaitu sekitar 2200-3000 mm per tahun. Ya, jelas berbeda dengan tanaman kopi arabika, karena tanaman kopi robusta lebih ‘kuat’ dan bisa ditanam di ketinggian yang rendah, yaitu <800 mdpl yang memiliki suhu lebih tinggi, yaitu 18-36˚C. Di temperatur yang lebih tinggi, tanaman kopi tersebut juga membutuhkan curah hujan yang lebih tinggi. Jika tidak, maka buah kopi

April 1, 2021 / Comments Off on Mengapa Ketinggian Menghasilkan Rasa Kopi Berbeda?
read more

Apa Benar Ampas Kopi Bagus untuk Tanaman? Ini Penjelasannya

Knowledge

Ada banyak cara untuk menyuburkan tanaman, termasuk dengan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ampas kopi dan bubuk kopi yang banyak digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Dilansir dari Treehugger, Minggu (21/3/2021), sudah sejak lama ampas kopi digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah atau menciptakan mulsa pengendali hama yang ditabur di sekitar tanaman. Meski demikian, apa benar ampas kopi bagus untuk tanaman? Beberapa riset terbaru menyatakan, para perawat tanaman harus bijak dalam merawat tanaman mereka. Penggunaan ampas kopi pun sebaiknya dilakukan dalam kondisi yang tepat. Manfaat ampas kopi untuk tanaman Penelitian tentang pengaruh kopi terhadap pertumbuhan tanaman terus berkembang. Di internet pun banyak artikel tentang manfaat ampas kopi untuk tanaman, lantaran disebut kaya nitrogen dan mampu membantu tanaman berfotosintesis. Mungkin Anda juga pernah membaca bahwa ampas kopi juga membantu tanah menahan air, mengusir siput dan siput, dan memperbaiki struktur tanah, dan sangat bermanfaat bagi tanaman yang menyukai asam. Beberapa di antaranya memang benar dan berasal dari sumber tepercaya yang telah melakukan penelitian independen mereka sendiri. Bubuk kopi telah terbukti meningkatkan aliran air dan struktur tanah. Kopi yang digiling halus mudah dipadatkan, dan dapat bertindak sebagai penahan kelembaban dan pergerakan udara. Namun, bila bubuk kopi dicampur dengan berbagai jenis lainnya bahan organik, mereka meningkatkan retensi air dan sirkulasi udara. Penelitian yang dilakukan di Washington State University merekomendasikan bahwa bubuk kopi tidak lebih dari 20 persen dari total volume kompos. Bubuk kopi juga menambah nutrisi pada tanah. Spesialis kompos di Oregon State University Extension Service menyimpulkan bahwa bubuk kopi membantu mempertahankan suhu ideal dalam tumpukan kompos untuk mempercepat pembusukan. Mereka juga menentukan bahwa bubuk kopi mengandung sekitar 2 persen nitrogen berdasarkan volume, yang diperlukan untuk pertumbuhan dedaunan. Studi lain menyebutkan kandungan nitrogen pada 10 persen. Penelitian lain mengungkapkan bahwa bubuk kopi akan meningkatkan kadar besi, fosfor, kalium, magnesium, dan tembaga tanah. Kapan kopi tidak bisa digunakan untuk tanah? The Soil and Plant Laboratory Inc. menemukan bubuk kopi memiliki tingkat pH 6,2, yang berarti agak asam. Namun penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Microbiology menemukan bahwa bubuk kopi bersifat agak basa. Meskipun bubuk kopi segar sangat asam dan dapat menjadi racun bagi tanaman, asam dalam asam kopi larut dalam air, yang berarti sebagian besar darinya berakhir di cangkir Anda, bukan di tanah. Kecuali jika Anda berencana untuk mengukur keasaman bubuk kopi Anda, mengubah tanah Anda dengan mereka mungkin tidak banyak membantu tanaman Anda yang menyukai asam dan sedikit membahayakan tanaman Anda yang menyukai alkali. Lalu, apakah kopi berbahaya bagi tanaman? Kopi ternyata bisa menghambat pertumbuhan tanaman Anda. Penelitian yang diterbitkan dalam Urban Forestry and Urban Greening menetapkan, penerapan langsung ampas kopi di tanah secara signifikan mengurangi pertumbuhan tanaman. Salah satu penyebab utamanya adalah kafein. Bahkan setelah diseduh, kadar kafein tetap ada dalam bubuk kopi yang cukup tinggi untuk memberikan efek negatif pada perkecambahan biji dan pertumbuhan awal tanaman. Sama seperti menaruh bubuk kopi di mesin pembuat espresso dan menghasilkan secangkir kopi yang lebih lemah, seiring waktu, fitotoksisitas bubuk kopi menurun dan manfaatnya meningkat. Saat tanah menjadi mineral, mereka melepaskan makronutrien penting ke tanah, yang menarik mikrobiota yang, pada gilirannya, membuat nutrisi tersebut tersedia untuk tanaman. Memang, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Applied Soil Ecology menemukan korelasi langsung antara peningkatan penggunaan ampas kopi, pelepasan racunnya, dan banyaknya jamur tanah yang bermanfaat dan bakteri yang mendorong pertumbuhan tanaman. Studi lain menemukan bahwa sebagai tingkat toksisitas Jumlah ampas kopi berkurang, aktivitas cacing tanah meningkat, tanpa efek merugikan yang nyata pada kesehatan cacing? Lalu, apa yang harus dilakukan? Sebelum Anda mulai menaburkan ampas atau bubuk kopi ke tanah, uji tanah Anda untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkannya. Sebagian besar pusat taman menjual alat uji pH sederhana. Anda juga dapat melakukan “uji pemerasan” sederhana untuk menentukan komposisi tanah untuk mengetahui jenis perubahan apa yang mungkin perlu Anda lakukan. Ambil segenggam tanah kebun yang lembab dan remas dengan tangan Anda. Jika rumpun langsung lepas, berarti tanah Anda terlalu berpasir. Tanah yang baik akan menahan bentuknya, tetapi hancur jika Anda mulai menusuknya. Jika tidak hancur sama sekali, berarti tanah Anda mengandung terlalu banyak tanah liat. Bergantung pada hasil tes ini, Anda mungkin ingin menambahkan lebih banyak atau lebih sedikit bubuk kopi ke kompos atau mulsa Anda. Bijaklah dengan apa yang Anda lakukan dengan ampas kopi. Menggunakannya sebagai mulsa langsung di tanah dapat menghambat retensi air dan sirkulasi udara, serta berdampak negatif pada perkecambahan tanaman dan pertumbuhan awal. Namun, penggunaan bubuk kopi secara tidak langsung dapat memiliki efek sebaliknya. Menambahkan sedikit bubuk kopi ke mulsa atau tumpukan kompos dapat memperbaiki kondisi tanah. Ikuti aturan 20 persen. Oleskan satu bagian bubuk kopi ke empat bagian bahan organik lainnya.

March 22, 2021 / Comments Off on Apa Benar Ampas Kopi Bagus untuk Tanaman? Ini Penjelasannya
read more

Pencinta Kopi Tak Melulu Suka Rasa Kopi Tapi Mereka Kecanduan Kafein

Featured,  Knowledge

Banyak orang tak bisa jalani hari tanpa minum kopi. Ternyata ini tak melulu karena aroma dan rasa kopi yang enak. Peneliti bilang sebabnya adalah kecanduan kafein. Kopi merupakan minuman populer di pagi hari yang menjadi sumber energi untuk menjalani aktivitas. Di balik cita rasa kopi yang nikmat, pencinta kopi ternyata berisiko alami kecanduan kafein. Dikutip dari Metro (10/12), penelitian baru mengungkap bahwa pencinta kopi bisa jadi bukan kecanduan pada rasa kopi, melainkan pada kafein yang terkandung di dalam secangkir kopi. Untuk melaksanakan penelitian kecanduan kafein, peneliti Jerman menguji peminum kopi dengan intensitas berat, rendah hingga sedang sebagai partisipan. Mereka menemukan bahwa peminum kopi dengan intensitas berat atau sering, memiliki keinginan yang lebih kuat terhadap kopi bahkan tanpa menyukai atau merasa puas dengan jenis kopi yang diminumnya. Keinginan yang kuat tanpa menyukai atau tidak peduli lagi dengan jenis kopi apa yang diminum merupakan tanda klasik dari sebuah kecanduan. Bagi mereka, kafein sudah menjadi kebutuhan tanpa menghiraukan lagi jenis kopi yang diminum. Para peneliti memantau 24 peminum kopi intensitas berat, yang minum kopi setidaknya tiga kali sehari, dan 32 individu yang tidak banyak minum kopi atau tidak meminumnya sama sekali. Seperti yang diprediksi peneliti, peminum kopi biasa menunjukkan tingkat keinginan lebih tinggi dalam memilih jenis minumannya. Hasil sebaliknya didapatkan pada peminum kopi dengan intensitas berat. Mereka menunjukkan keinginan peningkatan akan kopi dan kafein. “Data ini menegaskan bahwa konsumsi kopi yang sering dikaitkan dengan keinginan yang kuat, tidak harus selalu kopi, tetapi keinginan untuk konsumsi kafein secara berulang,” kata para peneliti dari Friedrich Schiller University Jena di Jerman. Hal ini menunjukan bahwa mereka yang secara rutin minum kopi dengan intensitas berat lebih cenderung menginginkan kafeinnya daripada kopi. Hal ini membuktikan bahwa kafein memiliki sifat adiktif yang dapat membuat konsumennya kecanduan. “Disosiasi ini memberikan penjelasan yang memungkinkan untuk konsumsi minuman yang mengandung kafein secara luas dan stabil. Seperti obat lain, mereka yang minum kopi secara berlebihan bisa menjadi kecanduan,” lanjut para peneliti. Kafein juga memiliki efek adiktif yang sama dengan pengaruh amfetamin, kokain dan heroin, yaitu untuk menstimulasi otak. Bisa dikatakan bahwa menstimulasi otak itu memberikan efek bersemangat atau energi lebih pada orang yang mengonsumsinya. Pada jurnal mereka yang diterbitkan dalam Jurnal Psychopharmacology, para peneliti menambahkan bahwa disosiasi keinginan dan kesukaan telah diamati dengan berbagai macam obat pada hewan. “Perbedaan utama antara obat-obatan yang sangat adiktif (misalnya, alkohol atau kokain) dan zat dengan kekuatan adiktif yang lebih rendah (misalnya, kafein) terutama mungkin kuantitatif daripada yang kualitatif,” kata para peneliti. Mengontrol asupan kafein harian memang perlu dilakukan. Salah satunya agar tubuh tidak terbiasa dengan jumlah kafein yang tinggi yang mungkin saja bisa menyebabkan kecanduan seperti yang dijelaskan. Mulai mengganti kopi dengan kopi decaf yang lebih rendah kandungan kafeinnya akan lebih aman untuk tubuh. Seperti yang diketahui segala sesuatu yang berlebihan tidak akan baik, termasuk urusan minum kopi.

December 14, 2020 / Comments Off on Pencinta Kopi Tak Melulu Suka Rasa Kopi Tapi Mereka Kecanduan Kafein
read more

Rasulullah SAW Anjurkan Doa Ini Saat Minum Kopi

Featured,  Knowledge

Kopi termasuk minuman legendaris yang sudah dikonsumsi sejak berabad tahun lalu, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW. Saat minum kopi juga ada doa yang dianjurkan untuk dibaca. Dalam dunia Islam, kopi sudah lama dikonsumsi oleh kaum sufi. Dilansir dari CNN (10/12) kopi termasuk minuman yang sering diminum kaum sufi untuk membuatnya tetap terjaga. Diceritakan oleh Sayyid Nahlawi Ibnu Sayyid Khalil, ada kisah singkat soal seorang sufi dari tanah Maghribi dan kopi. Suatu waktu, sufi ini menanyakan kepada Rasulullah SAW soal konsumsi kopi. “Wahai Rasulullah SAW, saya suka meminum kopi,” kata Sufi tersebut. Mendengar penyataan ini, Rasulullah SAW memerintahkan sang sufi untuk membaca doa saat hendak menyeruput kopi. “Ya Allah, jadikanlah kopi yang saya teguk sebagai cahaya bagi penglihatanku, kesehatan bagi badanku, penawar hatiku, obat bagi segala penyakit, duhai Dzat yang Maha Kuat dan Maha Teguh. kemudian membaca bismillahirrahmanirahim.” Tak hanya itu, Rasulullah SAW juga bersabda, kepada siapapun yang minum kopi, malaikat akan terus memintakan ampunan. “Malaikat akan terus memintakan ampunan untukmu selama rasa kopi masih menempel di mulutmu.” Dalam Islam, ada para ulama yang memperbolehkan minum kopi namun ada juga yang mengharamkan kopi. Salah satu ulama bernama Muhammad bin Mahmud al Zaini al Husaini yang hidup pada abad ke-16, menyusun sebuah risalah kecil tentang adanya dampak buruk kopi pada fisik. Larangan minum kopi merujuk pada konsumsi dalam jumlah berlebihan. Hal ini menjadi perhatian para ulama dan ahli kesehatan. Konon sepengetahuan mereka, kopi dianggap bisa menyebabkan wasir dan sakit kepala. Kopi juga dilaporkan dapat memicu penurunan nafsu makan, bahkan pada taraf tertentu, menurunkan gairah seksual. Padahal jika dikonsumsi secara bijak, kopi justru memberikan berbagai manfaat kesehatan. Sebenarnya, apapun yang dikonsumsi secara berlebihan dan menyebabkan dampak negatif maka makanan dan minuman yang sifatnya halal bisa menjadi haram.

December 11, 2020 / Comments Off on Rasulullah SAW Anjurkan Doa Ini Saat Minum Kopi
read more

MENGENAL JENIS-JENIS KOPI BUDIDAYA

Featured,  Knowledge

Tanaman kopi dipercaya berasal dari benua Afrika kemudian menyebar ke seluruh dunia. Saat ini kopi ditanam meluas di Amerika Latin, Asia-pasifik dan Afrika. Pohon kopi bisa tumbuh dengan baik di daerah yang beriklim tropis dan subtropis meliputi dataran tinggi maupun dataran rendah. Kopi dipanen untuk diambil bijinya kemudian dijadikan minuman atau bahan pangan lainnya. Di Indonesia, tanaman kopi dibawa oleh bangsa Belanda pada tahun 1896. Mereka memperkenalkan jenis kopi arabika. Pada perkembangannya, terjadi serangan penyakit karat daun (HV) yang menyebabkan kematian tanaman secara massal. Kemudian pemerintahan kolonial memperkenalkan jenis kopi liberika dan robusta yang lebih tahan penyakit HV. Jenis kopi budidaya Jenis kopi yang paling populer adalah arabika. Para penikmat kopi menghargai jenis kopi arabika lebih dibanding jenis kopi lainnya. Faktor penentu mutu kopi selain jenisnya antara lain habitat tumbuh, teknik budidaya, penanganan pasca panen dan pengolahan biji. Jenis kopi yang ada di bumi ini sangat banyak ragamnya. Namun hanya empat jenis kopi yang dibudidayakan dan diperdagangkan secara massal. Sebagian hanya dikoleksi pusat-pusat penelitian dan ditanam secara terbatas. Sebagian lagi masih tumbuh liar di alam. Empat jenis kopi yang banyak dibudidayakan adalah jenis kopi arabika, robusta, liberika dan excelsa. Sekitar 70% jenis kopi yang beredar di pasar dunia adalah kopi arabika. Disusul jenis kopi robusta menguasai 28%, sisanya adalah kopi liberika dan excelsa. a. Kopi arabika Kopi arabika (Coffea arabica) merupakan jenis kopi yang paling disukai karena rasanya dinilai paling baik. Jenis kopi ini disarankan untuk ditanam di ketinggian 1000-2100 meter dpl. Namun masih bisa tumbuh baik pada ketinggian diatas 800 meter dpl. Bila ditanam di dataran yang lebih rendah, jenis kopi ini sangat rentan terhadap penyakit HV. Arabika akan tumbuh optimal pada kisaran suhu 16-20oC. Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, kopi arabika membutuhkan bulan kering sekitar 3 bulan/tahun. Arabika mulai bisa dipanen setelah berumur 4 tahun. Dengan produktivitas rata-rata sekitar 350-400 kg/ha/tahun. Namun bila dipelihara secara intensif bisa menghasilkan hingga 1500-2000 kg/ha/tahun. Apabila telah matang, buah arabika berwarna merah terang. Buah yang telah matang mudah sekali rontok, jika dibiarkan buah tersebut akan menyerap bau-bauan yang ada di tanah sehingga mutunya turun. Arabika sebaiknya dipanen sebelum buah rontok ke tanah. Rendemen atau prosentase antara buah yang panen dengan biji kopi (green bean) yang dihasilkan sekitar 18-20%. Para petani kopi arabika biasa mengolah buah kopi dengan proses basah. Meski memerlukan biaya dan waktu lebih lama, tapi mutu biji kopi yang dihasilkan jauh lebih baik. b. Kopi robusta Kopi robusta (Coffea canephora) lebih toleran terhadap ketinggian lahan budidaya. Jenis kopi ini tumbuh baik pada ketinggian 400-800 m dpl dengan suhu 21-24oC. Budidaya jenis kopi ini sangat cocok dilakukan didataran rendah dimana kopi arabika rentan terhadap serangan penyakit HV. Dahulu setelah ada serangan penyakit HV yang masif, pemerintah kolonial mengganti tanaman kopi arabika dengan kopi robusta. Jenis kopi robusta lebih cepat berbunga dibanding arabika. Dalam waktu sekitar 2,5 tahun robusta sudah mulai bisa dipanen meskipun hasilnya belum optimal. Produktivitas robusta secara rata-rata lebih tinggi dibanding arabika yakni sekitar 900-1.300 kg/ha/tahun. Dengan pemeliharaan intensif produktivitasnya bisa ditingkatkan hingga 2000 kg/ha/tahun. Untuk berbuah dengan baik, jenis kopi robusta memerlukan waktu panas selama 3-4 bulan dalam setahun dengan beberapa kali hujan. Buah robusta bentuknya membulat dan warna merahnya cenderung gelap. Buah robusta menempel kuat di tangkainya meski sudah matang. Rendemen kopi robusta cukup tinggi sekitar 22%. Para penggemar kopi menghargai robusta lebih rendah dari arabika. Karena harganya yang murah, para petani seringkali mengolah biji kopi robusta dengan proses kering yang lebih rendah biaya. c. Kopi liberika Kopi liberika (Coffea liberica) bisa tumbuh dengan baik didataran rendah dimana robusta dan arabika tidak bisa tumbuh. Jenis kopi ini paling tahan pada penyakit HV dibanding jenis lainnya. Mungkin inilah yang menjadi keunggulan kopi liberika. Ukuran daun, percabangan dan tinggi pohon jenis kopi liberika lebih besar dari arabika dan robusta. Kopi liberika mutunya dianggap lebih rendah dari robusta dan arabika. Ukuran buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang kecil bercampur dalam satu dompol. Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah yakni sekitar 12%. Hal ini yang membuat para petani malas menanam jenis kopi ini. Produktivitas jenis kopi liberika ada pada kisaran 400-500 kg/ha/tahun. Liberika dapat berbunga sepanjang tahun dan cabang primernya dapat bertahan lebih lama. Dalam satu buku bisa berbunga lebih dari satu kali. Di Indonesia, jenis kopi ini ditanam di daerah Jawa dan Lampung. d. Kopi excelsa Kopi excelsa (Coffea excelsa) merupakan salah satu jenis kopi yang paling toleran terhadap ketinggian lahan. Kopi ini bisa tumbuh dengan baik didataran rendah mulai 0-750 meter dpl. Selain itu, kopi excelsa juga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Pohon kopi excelsa bisa menjulang hingga 20 meter. Bentuk daunnya besar dan lebar dengan warna hijau keabu-abuan. Kulit buahnya lembut, bisa dikupas dengan mudah oleh tangan. Kopi excelsa memiliki produktivitas rata-rata 800-1.200 kg/ha/tahun. Kelebihan lain jenis kopi excelsa adalah bisa tumbuh di lahan gambut. Di Indonesia, excelsa ditemukan secara terbatas di daerah Tanjung Jabung Barat, Jambi. Jenis kopi lainnya Berdasarkan penelusuran literatur, terdapat ribuan spesies kopi di dunia. Namun dalam perdagangan global hanya dikenal empat jenis saja seperti yang telah dijabarkan di atas. Adapun beberapa jenis lainnya adalah sebagai berikut: Coffea dewevrei Coffea khasiana Coffea arnoldiana Coffea salvatrix Coffea abeokutae Coffea congenis Coffea wightiana Coffea kapakata Coffea bengalensis Coffea stenophylla Coffea traverncorensis Coffea eugenioides Coffea recemosa Coffea zanguebariae

June 12, 2020 / Comments Off on MENGENAL JENIS-JENIS KOPI BUDIDAYA
read more

Posts pagination

1 2 … 4 Next
Royal Elementor Kit Theme by WP Royal.